Di balik setiap aktivitas dan pencapaian madrasah kami, saya melihat benang merah yang terus menguat: kerja sama, ketekunan, dan semangat untuk terus bertumbuh bersama. Setiap langkah kecil yang kita ambil—dengan niat tulus dan kesungguhan—sedikit demi sedikit membawa kita menuju cita besar.
Akhir Juni 2025, Refan Nur Fadly dari kelas IX G, berhasil meraih medali perak dalam Kejurnas Taekwondo kategori Kyorugi. Sebuah kebanggaan, karena bukan hanya medali yang ia bawa pulang, tetapi juga semangat juang yang menular.
Kemudian, pada 11 Juli, Muhammad Erdin Syahputera diumumkan lolos OSN IPS tingkat Provinsi Lampung. Di balik pencapaian itu ada kerja keras dan pendampingan penuh cinta dari Ibu Henny Herawati. Prestasi ini menegaskan bahwa akademik dan karakter adalah dua sayap yang terus kami latih bersama siswa.
Sabtu, 12 Juli, Matsama kami buka secara resmi. Aula, lorong-lorong, ruang kelas—semuanya kembali hidup dengan kehadiran siswa-siswa baru. Saya menyaksikan mata yang masih canggung, tapi juga penuh harap. Hari itu mereka mulai mengenal rumah baru mereka: madrasah ini.
Senin, 14 Juli, saya memimpin upacara pembukaan resmi Matsama Hari Pertama. Saya berbicara tentang semangat belajar, kedisiplinan, dan akhlak mulia. Kegiatan dilanjutkan dengan materi Wawasan Wiyata Mandala, anti perundungan, dan pengenalan budaya madrasah. Di waktu yang sama, sebanyak 13 ASN kami mengikuti Latsar CPNS dan Orientasi PPPK. Sebuah proses penting untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pendidikan kami.
Dan pada Selasa, 15 Juli 2025, saya menyambut gelombang energi baru: mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari UIN Raden Intan Lampung. Mereka datang bukan hanya untuk belajar, tapi juga memberi. Saya menyaksikan bagaimana mereka langsung terlibat aktif, dari mengajar di kelas hingga membantu operasional madrasah.
Ada Andryan Nur Ilham, Hafizka Zulfiatin Khoiriyah, dan Joice Amelia yang langsung mengajar mata pelajaran mereka. Ada Kiki Nazira dan Oktalia Sapitri Ayu yang ikut menyambut siswa dan mulai memperkenalkan diri sambil mengajar. Beberapa seperti Mutiara Aulia, Serly Agustina, dan Tsabitah Nurhasanah fokus pada perkenalan dan pendekatan interaktif di kelas.
Saya terharu melihat Anisa Yogi, Tasya Ayu, dan Nahya Azkiyaurrahmi ikut mendampingi kegiatan Matsama, bahkan membantu koordinasi Program MBG. Sementara itu, di sektor administratif, Ahmad Mukhlis, Selvia Agustina, Faza Laily, dan Zakia Min Fadlillah menjalankan tugas-tugas pelayanan di PTSP dan gedung utama. Hari itu, saya melihat dengan jelas: semangat pengabdian bisa tumbuh sejak dini, asal diberi ruang dan kepercayaan.
Rabu, 16 Juli, menjadi hari terakhir Matsama. Kami menerima kunjungan dari pengawas pembina, Ibu Yeni Diahastaty. MTsN 1 Bandar Lampung menjadi madrasah pertama yang dimonitor dalam pelaksanaan Matsama. Hari itu juga Matsama kami tutup dengan kegiatan edukatif dan spiritual: zikir, tausiyah, yel-yel, hingga penampilan ekstrakurikuler. Suasana penuh semangat—sebuah energi awal yang baik bagi siswa baru kami.
Kamis, 17 Juli, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi berjalan. Kerja sama kami dengan Dinas Ketahanan Pangan membuahkan wujud nyata: nasi bergizi untuk siswa, disusun dengan penuh perhatian. Saya ingin setiap anak madrasah ini tidak hanya kenyang secara fisik, tapi juga tumbuh dengan kesadaran akan hidup sehat.
Dan 18 Juli, ruang perpustakaan kami kembali hidup. Di bawah koordinasi Winarno, para petugas perpustakaan dengan sigap melayani peminjaman dan pengembalian. Saya membaca satu per satu catatan: siswa meminjam buku antikorupsi, kamus, dan buku pelajaran. Komentar mereka membuat saya bangga. Ada yang bilang, “Sangat membantu saya mencari kata-kata Bahasa Inggris.” Ada juga yang menulis, “Korupsi sudah lama meradang di negeri ini.” Kata-kata itu tumbuh dari buku, dari literasi yang menyentuh hati.
Akhirnya, Sabtu, 19 Juli, kami menutup pekan dengan Rapat Koordinasi Program Kelas Unggulan. Di hadapan pengurus, wali kelas, dan tutor, saya sampaikan lima pokok tugas wali kelas yang harus diperkuat: kehadiran siswa, koordinasi program MBG, komunikasi dengan orang tua, dan keterlibatan aktif dalam perkembangan akademik dan karakter.
Setiap hari yang kami lalui adalah batu kecil dalam membangun pondasi peradaban. Dari gelanggang olahraga hingga ruang kelas, dari perpustakaan hingga ruang piket, dari Matsama hingga meja koordinasi. Semuanya adalah bagian dari puzzle besar bernama pendidikan.
Saya percaya: madrasah adalah rumah tumbuh. Di sini, siswa belajar menjadi manusia, guru terus belajar menjadi penerang, dan kita semua menjadi bagian dari perjalanan menuju generasi unggul dan berkarakter Islami.
Mari terus melangkah—karena dari langkah kecil inilah, cita-cita besar dimulai.
Refleksi MBG:





Komentar
Posting Komentar