Pagi itu, saya berdiri di halaman MTsN 1 Bandar Lampung, memandangi 332 siswa baru yang berbaris rapi. Pemandangan itu sungguh menggugah hati—wajah-wajah penuh harapan, cahaya matahari yang menyelinap di sela dedaunan, memantul hangat di wajah mereka. Udara pagi terasa segar, bercampur aroma tanah yang baru disiram embun dan wangi bunga dari taman-taman kecil di sekitar halaman madrasah. Saya menarik napas dalam-dalam, meresapi momen yang penuh makna itu.
Ibu Pusporini membuka kegiatan dengan suara lembut tapi tegas. Suaranya mengalun melalui pengeras suara, berpadu dengan suara gemerisik bendera dan kursi plastik yang sesekali bergeser. Semua terasa tertata dan mengalir dengan khidmat.
Kemudian Ibu Tunah, ketua pelaksana kegiatan, naik ke atas panggung. Ia menyampaikan laporan dengan penuh semangat. Saya mendengarkan dengan saksama saat ia menjelaskan bahwa kegiatan MATSAMA ini sudah dimulai sejak Sabtu lalu. Hari itu diisi dengan pembagian kelompok dan pengenalan lingkungan madrasah. Ia juga menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan akan berlangsung hingga Rabu, penuh dengan materi pembentukan karakter, penguatan nilai madrasah, dan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan.
Ketika tiba giliran saya untuk memberikan sambutan, saya melangkah ke podium dengan perasaan hangat dan penuh harap. Saya tatap satu per satu wajah siswa baru yang kini menjadi bagian dari keluarga besar kami. Dalam sambutan saya, saya sampaikan bahwa madrasah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi kampus ceria, rumah kedua tempat mereka tumbuh dan mengembangkan potensi. Saya katakan, “Kami, para guru, akan menjadi orang tua kalian di sini. Madrasah ini akan membantu mewujudkan mimpi-mimpi kalian.”
Saya sempat melihat beberapa siswa terdiam, menunduk, mungkin sedang merenungkan ucapan saya. Momen itu terasa menyentuh.
Setelah sambutan, saya melakukan penyematan tanda peserta kepada perwakilan siswa. Tepuk tangan menggema. Lalu, kami bersama-sama melepas balon warna-warni ke langit. Saya melihat ke atas—langit biru cerah dan balon-balon yang terbang tinggi perlahan—seakan membawa harapan dan cita-cita siswa-siswa ini ke cakrawala masa depan mereka. Angin pagi menyentuh wajah saya, dingin dan menyegarkan.
Doa penutup dipimpin oleh Ustaz Erdyn. Suaranya lembut, mengalun menenangkan. Saya menunduk, ikut larut dalam suasana haru dan syahdu yang terasa meresap hingga ke hati.
Hari itu, MATSAMA resmi kami buka. Saya pulang dengan keyakinan bahwa madrasah ini akan menjadi tempat yang menyenangkan dan bermakna bagi mereka semua. Semoga langkah awal ini menjadi pijakan yang kuat untuk perjalanan panjang mereka dalam menuntut ilmu dan meraih mimpi.
***
Mari dukung kegiatan digitalisasi madrasah dengan
- Mengisi daftar Hadir:
- Membuat dan membagikan Twibbon:
- Bergabung di Album Foto :
.jpg)
Komentar
Posting Komentar