Mengokohkan Pilar Kebangsaan di Era Digital

Mengokohkan Pilar Kebangsaan di Era Digital



Sebagai Kepala MTsN 1 Bandar Lampung, kehadiran saya bersama Bapak Winarno, Kepala Perpustakaan, dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Berbasis Komunitas yang diselenggarakan oleh Perempuan PGRI Provinsi Lampung berkolaborasi dengan MPR RI di Ballroom Hotel Radisson pada Kamis (6/11/2025) adalah sebuah momen yang sangat bermakna dan krusial.

Kehadiran kami, mewakili institusi di bawah naungan Kementerian Agama, menegaskan komitmen kami untuk tidak hanya unggul dalam aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).



Acara yang berlangsung dari pukul 08.00–12.30 WIB ini menjadi ruang diskusi yang mencerahkan. Bersama perwakilan guru dan berbagai organisasi perempuan lainnya, kami menyimak dengan saksama pemaparan dari Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Bapak Abraham Liyanto, Ibu Nurul Arifin, dan Bapak Syaiful Nuri.

Materi yang disampaikan sangat jelas: Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika—adalah kompas moral dan ideologis bagi bangsa. Pemahaman yang kokoh atas pilar-pilar ini sangat penting, khususnya bagi kami, para pendidik, yang merupakan garda terdepan dalam membentuk karakter generasi penerus.


Poin yang paling menarik perhatian saya adalah penekanan pemateri mengenai peran media sosial dalam upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi global dan tantangan disrupsi teknologi, pesan ini menjadi sangat relevan.

"Melalui penanaman nilai-nilai empat pilar kebangsaan, kita berharap mereka memiliki jati diri yang kuat, berkarakter nasionalis, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak."

Pernyataan ini menjadi mandat bagi MTsN 1 Bandar Lampung. Sekolah harus menjadi filter sekaligus fasilitator bagi siswa agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen yang mampu menyebarkan narasi kebangsaan, toleransi, dan persatuan melalui platform digital secara positif dan bertanggung jawab.


Momen ini juga menjadi ajang silaturahmi yang hangat, terutama dengan Ibu Laksmi Holifah, guru kami sekaligus pengurus dan panitia PGRI. Saat saya menanda tangani daftar hadir, menerima kupon, dan buku materi sosialisasi, Ibu Laksmi menyampaikan keyakinannya bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat.

Senada dengan itu, pernyataan Ibu Yuniarti yang menekankan sosialisasi ini sebagai sarana penting untuk menambah wawasan kebangsaan dan memperkuat peran guru sebagai agen perubahan sangatlah tepat. Kami, para guru, harus menjadi teladan nasionalisme dan mampu mengemas nilai-nilai luhur ini agar mudah dicerna oleh peserta didik di tengah dinamika zaman.

Sebagai tindak lanjut nyata, buku materi sosialisasi yang saya terima langsung saya serahkan kepada Bapak Winarno. Ini adalah langkah kecil namun strategis: menjadikannya koleksi pustaka unggulan di MTsN 1 Bandar Lampung. Tujuannya adalah memastikan materi ini dapat diakses dan dibaca oleh seluruh civitas akademika—guru, staf, dan siswa—sehingga semangat dan esensi Empat Pilar Kebangsaan dapat terus berdenyut dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum dan budaya sekolah kami.


Partisipasi ini telah menegaskan kembali bahwa pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan adalah tanggung jawab bersama. Saya optimis, melalui sinergi antara madrasah, PGRI, dan MPR RI, MTsN 1 Bandar Lampung akan terus mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas ilmu dan iman, tetapi juga memiliki jati diri nasionalis yang kuat.



Komentar