Kabar Duka di Ujung Fajar

Pagi itu, Sabtu, 1 Maret 2026, udara masih terasa sedingin es dan suasana sunyi senyap menyelimuti kota. Namun, keheningan itu pecah ketika sebuah pesan singkat masuk ke dalam grup percakapan pada pukul 07.39. Bapak Muhaimin Muhammad membawa kabar yang membuat hati siapa pun yang membacanya seakan teriris sembilu.



> "Innalillahi wainailaihi rojiun, telah meninggal dunia ibunda dari Pak Bagus..."

Kabar itu menyebar bak api yang menjalar di rumput kering. Di RS Kayu Agung, tepat saat sang surya baru saja hendak mengintip dari ufuk timur pukul 04.30, sebuah lilin kehidupan telah padam dengan tenang.

Satu demi satu, untaian doa mengalir deras melalui layar ponsel yang berpendar terang di tangan masing-masing anggota grup. Getaran notifikasi yang berulang-ulang seolah menjadi detak jantung kepedulian dari rekan-rekan sejawat:

 * Aroma kesedihan menyeruak melalui kalimat-kalimat tulus. Ibu Ahfa, Ibu Sri, dan Ibu Rosida segera melangitkan doa-doa dalam bahasa langit, memohon agar almarhumah mendapatkan tempat paling mulia.

 * Bapak Tugiyo, Bapak Winarno dan Bapak Turyadi turut memberikan penguatan, berharap pintu surga terbuka lebar bagi sang ibunda, seluas lapangan yang kini menanti jasadnya kembali ke haraan bumi.

 * Doa terus mengalir hingga siang hari. Ibu Heny Herawati dan rekan lainnya melalui stiker ucapan belasungkawa berharap agar keluarga yang ditinggalkan memiliki kesabaran seteguh karang dalam menghadapi badai kehilangan ini.

Di tengah gemuruh doa yang membanjiri ruang digital tersebut, Pak Bagus muncul dengan kalimat singkat yang penuh haru. "Terima kasih doanya bapak ibu," tulisnya. Meski hanya tulisan, ada nada suara yang bergetar penuh syukur di balik layar itu, merasakan pelukan hangat dari sebuah keluarga besar bernama MTsN 1 yang tak membiarkannya berduka sendirian.


Komentar